COVID VS SEMUA ORANG

COVID VS SEMUA ORANG

Tahun 2020 nampaknya merupakan tahun yang buruk bagi umat manusia, karna hingga saat ini banyak sekali kejadian-kejadian buruk yang terjadi, sebut saja terjadinya bencana alam seperti kebakaran hutan, erupsi gunung api, banjir dan masih banyak lagi.

Isu perang dunia ketiga antara negara adidaya Amerika dan Iraq akibat terbunuhnya Jenderal Iraq pun sempat memanas. Tak sampai disitu, salah satu bencana yang sangat menggemparkan pada tahun ini adalah kedatangan wabah penyakit Covid-19/Corona virus.

Covid-19 atau biasa disebut dengan Virus Corona adalah sebuah virus yang menyerang bagian saluran pernafasan, biasanya menimbulkan flu, namun dapat menyebabkan penyakit infeksi saluran pernafasan yang lain dan dapat mengakibatkan kematian jika si penderita ada komplikasi penyakit lain.

Virus ini dapat meluas melalui benda mati dan juga kontak fisik, oleh karna itu apabila ada penderita yang terjangkit virus ini maka diwajibkan untuk karantina, agar virus itu tidak menyebar kepada orang-orang yang melakukan kontak fisik dengan si penderita itu.

Orang yang terjangkit virus ini dapat sembuh tanpa perawatan khusus, hanya diwajibkan untuk mengonsumsi makan-makanan bergizi dan olahraga yang cukup agar imun dapat melawan virus itu, oleh karna jika imun tubuh kita kuat maka karantina selama 14 hari tentunya sudah mampu untuk melawan virus itu dan mengusirnya dari tubuh kita.

WHO pun telah melaksanakan beberapa protokol kesehatan dalam rangka untuk menghadapi pandemi ini misalnya untuk menjaga jarak, menghindari kontak fisik, selalu rajin mencuci tangan, menggunakan masker dan masih banyak lagi.

Hal ini dilakukan untuk membasmi penyebaran virus ini dan agar virus ini dapat hilang dari muka bumi, namun tentunya hal itu tidaklah mudah, oleh karna itu WHO menghimbau setiap negara untuk membuat peraturan yang dianjurkan oleh WHO.

Dengan adanya aturan-aturan itu secara tak langsung akan berdampak terhadap kehidupan sehari-hari dan akan mengubah tatanan kehidupan manusia, dan itulah yang akan saya bahas pada kali ini.

Jika berbicara tentang aturan-aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam menanggulangi pandemi ini tentunya akan menimbulkan pro dan kontra, beberapa peraturan pemerintah yang menimbulkan pro kontra di masyarakat misalnya adalah tentang himbauan pemerintah tentang pemakaian masker khusus medis atau masker yang memiliki 2 lapis atau lebih.

Oleh karena itu pemerintah menghimbau hal ini bukan tanpa alasan, himbauan ini karna masker dengan 2 lapis atau lebih akan memberikan perlindungan yang lebih aman daripada masker yang hanya memiliki 1 lapis seperti masker jenis scuba ataupun buff.

Nah yang menjadi kontra nya adalah karna saat ini jenis masker yang di rekomendasikan pemerintah itu jumlahnya tidak sebanyak masker-masker jenis scuba dan sebagainya, sekalipun ada jumlahnya juga tidak banyak dan harganya akan sangat mahal.

Sebenarnya dari produsen masker medis itu tidak menjual dengan harga yang begitu mahal, namun ada beberapa oknum yang memborong masker itu lalu menaikan harganya hingga berkali-kali lipat dari harga aslinya.

Itu hanyalah contoh kecil dari barang wajib kita gunakan disaat pandemi ini, lalu ada lagi jenis hand sanitizer yang harganya sempat naik.

Setiap individu memang dianjurkan untuk memiliki Hand sanitizer karna dapat digunakan untuk menghilangkan kuman-kuman yang menempel di tangan kita, pada awal-awal pandemi ini melanda Indonesia, hand sanitizer ini memiliki nasib yang sama dengan masker, yaitu susah ditemukan sekalinya ditemukan harganya pasti tidak wajar.

Hal ini terjadi karna masyarkat membeli barang tersebut sehingga di pasaran stoknya menjadi sangat sedikit, dan sesuai hukum ekonomi apabila stok dikit namun peminatnya banyak maka harga akan otomatis naik.

Beruntungnya lambat laun harga dari hand sanitizer sudah kembali normal karna beberapa produsen dari produk-produk kesehatan meningkatkan produksinya, terutama produk-produk hand sanitizer.

Tak hanya itu, bahkan banyak juga produsen yang basicnya bukan tentang kesehatan tiba-tiba ikut memproduksi hand sanitizer, hal ini juga tidak salah, karna memang pada saat ini barang itu sedang dibutuhkan.

Yang patut kita syukuri adalah walaupun sedang pandemi ini harga bahan makanan dan bahan-bahan pokok seperti mie instan, beras, gula, daging tidak mengalami kenaikan berkali-kali lipat seperti masker tadi, karna tentunya jika bahan-bahan makanan itu naik akan menggambarkan keresahan yang lebih besar lagi, terutama untuk rakyat menengah kebawah.

Dengan adanya pandemi ini tentunya memberikan dampak negatif dan juga positif terhadap masyarakat.

Dampak negatif dari pandemi ini sangatlah banyak, misalnya saat pandemi ini masuk ke Indonesia beberapa kota melakukan lockdown misalnya Tegal dan Jakarta, hal ini tentunya merupakan hal yang baru oleh karna itu banyak warga yang tidak setuju dengan hal itu, karna lockdown akan mengurangi aktivitas warganya seperti pembatasan jam malam, tidak diperbolehkannya pendatang dari luar kota dan sebagainya.

Lockdown sebenarnya mendorong dampak yang positif karna dengan adanya lockdown maka jika ada orang yang terjangkit covid-19 maka akan lebih mudah dilakukan. Hal ini juga dapat mencegah penyebaran virus dari luar kota tersebut.

Berbicara dampak. Tentunya Covid-19 membawa dampak negatif dan juga positif, walaupun lebih banyak negatifnya.

Beberapa dampak negatif yang dirasakan di Indonesia misalnya di sektor pendidikan, semenjak adanya pandemi ini pemerintah menegaskan aturan bagi para pelajar maupun mahasiswa untuk belajar dari rumah masing-masing, hal ini merupakan hal baru di Indonesia karna semuanya dilakukan full melalui daring/online mulai dari pelajaran teori bahkan praktek.

Hal ini tentunya akan sedikit menyusahkan bagi masyarakat yang kurang mengerti tentang teknologi dan juga masyarakat yang kurang mampu, karna untuk melakukan kegiatan “kelas online” dibutuhkan device dan juga internet, dan itu harganya juga tidak murah, bisa digunakan untuk membayar sekolah 1 hingga 2 semester.

Dengan adanya kelas online ini tentunya cukup merugikan bagi siswa/mahasiswa yang seharusnya mendapatkan asupan praktek di lab/bengkel namun semenjak pandemi ini hanya bisa dilakukan secara teori.

Sektor kedua yang terdampak dari adanya pandemi ini adalah dari sektor industri. Sektor ini mungkin yang paling terdampak dan juga paling dirugikan dari pandemi ini, mengapa demikian?

Karna sektor industri membutuhkan karyawan, dan jika pada industri itu ada 1 orang yang terjangkit virus maka ditakutkan akan menyebar pada orang lain di industri tersebut, maka banyak pabrik-pabrik yang mengistirahatkan karyawannya untuk menghindari paparan virus, hal ini tentunya akan merugikan kedua belah pihak, di pihak karyawan akan kehilangan penghasilannya dan di pihak pelaku industri akan kehilangan tenaga untuk produksi.

Tak sampai disitu, beberapa industri yang pontang-panting disaat pandemi ini juga cukup banyak, sebut saja industri makanan, banyak restoran- restoran besar yang mengalami penurunan omset saat pandemi ini bahkan hingga rela berjualan ke pinggir jalan, bahkan ada salah satu restoran ternama di ibu kota yang menjajakan makanannya di fly over.

Memang semenjak adanya pandemi ini pelaku industri makanan harus memutar otak agar usahanya tetap berjalan, misalnya dengan memberikan diskon, membuka tokonya di aplikasi ojek online dan masih banyak lagi.

Selain itu industri transportasi juga mengalami kerugian yang cukup besar, karna semenjak adanya pandemi ini penumpang maupun calon penumpang berpikir 2x untuk bepergian.

PT. KAI juga mewajibkan calon penumpangnya untuk melakukan rapid test sebelum mereka dapat naik kereta api, oleh karna itu calon penumpang harus merogoh kocek tambahan untuk melakukan rapid test, hal itu juga sama dengan industri penerbangan.

Itu hanyalah contoh kecil dari sektor-sektor yang dirugikan dari adanya pandemi ini, namun ternyata ada juga yang diuntungkan dengan kehadiran pandemi ini.

Sebagian pihak yang diuntungkan dengan adanya pandemi ini adalah pihak- pihak yang berurusan dengan dunia internet, misalnya Google, dilangsir dari Kompas, Youtube meraup pendapatan sebesar Rp. 60,2 Triliun atau naik 33 persen dari tahun lalu. Tak hanya itu, aplikasi-aplikasi streaming film pun merasakan hal yang sama, sejak pandemi berlangsung, aplikasi streaming film asal Amerika itu mendapatkan 15,8 juta pelanggan baru.

Tak hanya di luar negeri saja, di Indonesia pun ada beberapa pihak yang diuntungkan, misalnya para pedagang di marketplace online seperti Tokopedia, Shopee, Blibli dan sebagainya, hal ini dikarenakan pemerintah menganjurkan masyarakat untuk #DirumahAja maka masyarakat memilih untuk berbelanja secara online tanpa perlu keluar rumah.

Maka dari itu jasa pengiriman/ekspedisi juga mengalami hal yang sama, disaat pandemi mereka mengalami kenaikan yang cukup signifikan karna dengan meningkatnya minat masyarakat untuk berbelanja online.

Dibalik itu semua pandemi ini tentunya telah mengubah segala aspek dalam kehidupan kita, dan tentunya membawa berbagai dampak, baik itu positif maupun negatif, tapi harapan kita semua tentunya agar pandemi ini segera berlalu agar manusia dapat menjalani kehidupannya secara normal seperti biasanya. Salam.

Sumber : Kompasiana

Kalau sudah banyak Customer yang percaya sama Hygiene-Q memberi jaminan 100% aman dan buat mudah. kenapa masih ragu cari sana sini apalagi harus pusing Sendirian.

Buruan Tlp/Wa 0878 8525 8206 | 0813 9555 1190 | 0813 1600 1020 | 0813 3000 9003