Penanganan Pandemi COVID-19 di Indonesia Tidak Berhasil: Epidemiologis

Indonesia terhadap wabah COVID-19 belum berhasil, kata ahli epidemiologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Bayu Satria Wiratama. “Indonesia tidak berhasil [dalam menangani pandemi],” ada dua faktor utama yang mengarah pada kesimpulan ini: kurangnya disiplin dalam mengikuti protokol kesehatan di antara pejabat pemerintah dan kegagalan untuk meningkatkan kapasitas pengujian. “Meski pemerintah terus mendesak masyarakat untuk memakai masker, menjaga jarak secara fisik, dan sering mencuci tangan, banyak acara yang diselenggarakan pemerintah gagal menerapkan protokol semacam itu,” kata Bayu. Situasi ini, lanjutnya, menjadi contoh buruk bagi masyarakat sehingga banyak yang mengabaikan protokol kesehatan. Dia mengatakan penting bagi pemerintah untuk menyampaikan pesan yang konsisten kepada publik dengan memberikan contoh yang baik. “Presiden atau pejabat pemerintah tidak boleh terlihat memotret atau berbicara tanpa topeng,” katanya. Baca juga: Kesenjangan Pengujian Membayangi Upaya Jabodetabek Putuskan Rantai Penularan Selain kurangnya disiplin, Bayu juga menilai pemerintah gagal meningkatkan kapasitas pengujian, tindakan karantina pasien, dan pelacakan kontak. “Sebelumnya pemerintah menyatakan akan meningkatkan kapasitas uji coba menjadi 10.000 per hari, namun hingga saat ini belum mampu memenuhi target tersebut,” ujarnya. “Singapura misalnya berhasil mengendalikan COVID-19 dengan melakukan pengujian dan penelusuran secara masif dan cepat. Sedangkan di Indonesia, pemerintah hanya melakukan sedikit pelacakan kontak untuk setiap kasus yang dikonfirmasi,” imbuhnya.

Mempertimbangkan situasi saat ini, kata Bayu, pandemi tersebut mungkin baru akan berakhir setelah sebagian besar warga tertular penyakit dan mengembangkan kekebalan tubuh, kecuali jika pemerintah menemukan vaksin untuk virus corona. “Melihat respon pemerintah [COVID-19] saat ini, harapan kami sekarang terletak pada pengembangan vaksin,” katanya.